Minggu, 17 Agustus 2014

contoh daftar pustaka



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Muksin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang : YA3
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang : Sinar Baru
Arikunto, Suharsimi. 1989. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Bina Aksasra
Badudu, J.S. 1986.  Sari Kesusateraan Indonesia. Bandung : Pustaka Prima
Depdikbud. 1995. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA. Jakarta; Depdikbud.
Endraswara Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: C A P S
Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yokyakarta: Pustaka Pelajar.
Hoetomo, M.A. 2005.  Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Mitra Pelajar
http.//Oediku.wordpress.com/2010/12/22/sejarah asal usul lombok
Koencaraningrat .1984 .Kebudayaan, Mentalis dan Pembangunan.Jakarta : Gramedia.
Kosasih. E. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia : Jakarta: Nobel
Moleong, Lexy J. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : CV. Remaja
Marzuki, 1986. Metode Riset.  Yogyakarta : Fakultas Ekonomi UII
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna Nyoman Kutha. 2011. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Teeuw, A.1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya
Sayuti A. Suminto. 1997. Apresiasi  Prosa Fiksi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Semi. Atar. 2012. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa
.                    1988. Kretik Sastra Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa
Situmorang, B.P. 1983. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Medan : Nusa Indah
Suyitno. 1985. Pengajaran Apresiasi Sastra dan Kemampuan Berbahasa. Yokyakarta: Hamindita.
Wellek, Rene dan Weren, Austin. 1989. Teori Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia

RESEPSI MASYARAKAT TERHADAP CERITA CILINAYA DI DESA PENGANTAP



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Cerita Cilinaya merupakan cerita lisan yang berkembang di Desa Pengantang Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat yang berisi tentang perjalanan hidup seorang putri yang bernama Cilinaya. Cerita Cilinaya biasanya diceritakan oleh  para orang tua kepada anak atau cucunya sebelum tidur.  Cerita Cilinaya diceritakan agar tidak meniru hal-hal yang tidak selaras dengan orang kebanyakan, bersifat didaktis agar taat kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan dimanifestasikan ke dalam perilaku keseharian guna melahirkan perubahan perilaku sosial.
Saat ini Cerita Cilinaya sudah jarang diceritakan lagi oleh para orang tua kepada anak atau cucunya     karena pada masa sekarang masyarakat sudah terpengaruh oleh teknologi-teknologi modern seperti TV dan Radio yang menyebabkan cerita Cilinaya jarang diceritakan lagi, bahkan hampir punah. Tidak sedikit masyarakat khususnya  generasi muda yang tidak mengetahui cerita Cilinaya, itu disebabkan oleh masuknya teknologi-teknologi modern yang menyebabkan tergesernya sastra lisan salah satunya yaitu cerita Cilinaya itu sendiri.    
Mengingat banyaknya ragam seni sastra Desa Pengantap sebagaimana yang tersebut di atas bersifat lisan akan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Keberadaanya yang demikian memungkinkan seni sastra lisan tersebut cepat atau lambat akan dilupakan oleh masyarakat, bahkan bisa punah. hal itu erat kaitannya dengan globalisasi informasi yang melanda dunia pada umumnya Indonesia pada khususnya. Akibat globalisasi informasi itu, muncul nilai-nilai baru yang akan menggeser nilai tradisional yang kita miliki, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam dalam ciri sastra lisan tersebut.
Kehadiran Cerita Cilinaya pada umumnya cendrung dipandang sebelah mata oleh masyarakat khususnya generasi muda sekarang ini. Mereka menganggap cerita Cilinaya hanya milik orang tua terdahulu dan Cerita Cilinaya hanya sebagai mitos yang semakin hari semakin dilupakan. Padahal  dengan adanya cerita rakyat (cerita Cilinaya) daerah kita jadi memiliki identitas dengan ciri khasnya. Selain itu, kondisi zaman dan arus globalisasi yang membawa manusia khususnya generasi muda yang mudah terpengaruh oleh perubahan zaman yang dapat menggeser nilai-nilai tradisional dan budaya yang ada. Akibatnya mereka tidak mengetahui budaya yang menjadi identitas daerah mereka. Karena tidak pernah lagi mendengar cerita tersebut sehingga cerita Cilinaya ini cepat atau lambat akan dilupakan oleh pemiliknya atau bahkan bisa punah.
Selain itu, cerita Cilinaya tidak mendapat tempat di hati masyarakat khususnya generasi muda. Mereka sama sekali tidak mengenal cerita Cilinaya itu sendiri. Selain cerita Cilinaya, terdapat berbagai jenis sastra lisan dalam masyarakat Desa Pengantap, di antaranya Memace (pembacaan lontar) dan Kepunjang (berbalas pantun). Tetapi dalam penelitian ini khusus meneliti satu jenis cerita yaitu resepsi masyarakat terhadap cerita Cilinaya.
Cilinaya adalah seorang putri raja yang terbang terbawa angin karna bapaknya tidak memenuhi janji/nazarnya sehingga Cilinaya hilang terbawa angin, namun dengan izin Allah Tuhan Yang Maha Esa, sepasang suami istri yang mandul menemukan dan di ambil menjadi anak angkatnya, dan Cilinaya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik sehingga seorang pangeran bernama Raden Panji dari kerajaan Daha mulai jatuh cinta dan menjadikannya sebagai istri. Namun menurut orang tua Raden Panji, Cilinaya bukan dari keturunan raja sehingga dibunuhlah Cilinaya tanpa sepengetahuan Raden Panji (suaminya).
Cerita Cilinaya adalah cerita lisan yang hidup pada masyarakat, khususnya di desa-desa seperti Desa Pengantap Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Sastra lisan hidup berdampingan dengan sastra tulisan dan sastra Indonesia modern. Keberadaan sastra lisan di tengah-tengah perkembangan sastra Indonesia modern mengandung makna tersendiri bagi masyarakat yang memilikinya. Artinya, Indonesia khususnya masyarakat yang berada di daerah menganggap bahwa nilai yang terkandung dalam sastra lisan masih sesuai dengan pikiran, perasaan, dan cita-cita mereka. Dengan kata lain, nilai yang ditawarkan sastra lisan  masih relevan dengan kehidupan masyarakat pemiliknya. Kebudayaan adalah keseluruhan  gagasan manusia yang harus dibiasakan dengan belajar sastra dari hasil budi dan karyanya itu (Koentjaraningrat, 1992:9). Di kemukakan pula “segala kebudayaan adalah pencerminan nilai-nilai ekonomi, nilai agama, nilai seni, dan nilai solidaritas” (Koentjaraningrat, 1992:3). Sastra merupakan suatu aspek budaya. Begitu pula dengan sastra daerah, dengan demikian, kebudayaan daerah merupakan cerminan ide, kreasi dan karya masyarakat berupa nilai-nilai, norma-norma, dan benda-benda sebagai nilai karya masyarakat daerah itu sendiri.
Telaah ini bertujuan untuk mendapatkan resepsi masyarakat terhadap cerita Cilinaya yang terdapat di Desa Pengantap Kecamatan Sekotong Kabupaten lombok Barat, yang memiliki nilai yang sangat menyentuh dalam segi kehidupan. Nilai-nilai budaya masa lampau yang banyak mengandung unsur pendidikan perlu disosialisasikan kembali pada generasi sekarang.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bertujuan untuk menemukan resepsi  masyarakat terhadap cerita Cilinaya yang perlu diteliti agar mendapat gambaran yang lebih konkret tentang kebenarannya. Maka penulis tertarik meneliti cerita tersebut karena ingin mengetahui resepsi masyarakat terhadap cerita Cilinaya yang terdapat di Desa Pengantap Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan yang akan dianalisis adalah bagaimanakah resepsi masyarakat Desa Pengantap terhadap Cerita Cilinaya dalam kaitannya dengan aktivitas kehidupannya?
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam melaksanakan suatu kegiatan, lebih-lebih yang bersifat ilmiah, tujuan merupakan pemegang peranan penting. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan resepsi masyarakat Desa Pengantap terhadap Cerita Cilinaya dalam kaitan dengan aktivitas kehidupannya
1.4 Manfaat  Penelitian
Dalam melakukan sebuah penelitian sudah sepantasnya diharapkan suatu manfaat yang dapat diambil dari penelitian tersebut. Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah
1.5 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
1.  Penulis dapat mengetahui resepsi masyarakat terhadap Cerita Cilinaya Di Desa pengantap
2.    Sebagai upaya untuk mempertahankan sastra daerah khususnya Cerita Cilinaya Di Desa Pengantap.
3.                  Sebgai acuan bagi para peneliti sastra yang ingin       melakukan penelitian yamg relevan dengan penelitian ini.
1.5.1 Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan nantinya mampu memberikan gambaran yang utuh tentang Cerita Cilinaya sebagai warisan budaya serta dapat menarik minat peneliti lain.
1.5.2 Manfaat Akademis
Manfaat akademis yang diharapkan dalam penilitian ini, yaitu untuk menambah wawasan peneliti khususnya dan para pembaca umumnya tentang sastra lisan yang terdapat di Desa Pengantap.

   mikir mesak kelanjutan